Bisnis  

Harga Emas Antam Melemah Rp 861 Ribu per Gram

emas antam 1 Harga Emas Antam Melemah Rp 861 Ribu per Gram
foto: cnn indonesia

detakhukum.com, Jakarta – Harga jual Emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam berada di posisi Rp861 ribu per gram pada Senin (23/3) atau turun Rp9.000 dari Rp870 ribu per gram pada Minggu (22/3). Begitu pula dengan harga pembelian kembali (buyback) naik Rp11 ribu dari Rp791 ribu menjadi Rp780 ribu per gram pada hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp455 ribu, 2 gram Rp1,67 juta, 3 gram Rp2,48 juta, 5 gram Rp4,12 juta, 10 gram Rp8,18 juta, 25 gram Rp20,35 juta, dan 50 gram Rp40,63 juta.
Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp81,2 juta, 250 gram Rp202.75 juta, 500 gram Rp405,3juta, dan 1 kilogram Rp810,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Sementara harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar commodities exchange COMEX berada di posisi US$1.495,9 per troy ons atau menguat 0,52 persen. Sebaliknya, harga emas di perdagangan spot justru terkoreksi 0,52 persen ke US$1.490,85 per troy ons pada pagi ini.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra memperkirakan harga emas di pasar internasional akan bergerak di rentang US$1.460 sampai US$1.550 per troy ons pada hari ini. Harga emas cenderung melemah sejalan dengan lesunya aset berisiko seperti saham.

“Sentimen negatif masih membayangi pergerakan aset berisiko, seperti saham di AS, Australia, Nikkei dan Kopsi, serta sebagian mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS. Harga emas kini sejalan dengan aset berisiko,” ujar Ariston dikutip cnn.

Ariston mengatakan aset berisiko masih cenderung melemah karena kekhawatiran pandemi virus corona atau Covid-19 masih tinggi. Data penyebaran virus corona dari Johns Hopkins CSSE pada Senin (23/3) pukul 09.00 WIB, jumlah kasus positif di dunia mencapai 335.997 dengan jumlah pasien sembuh 98.333 orang dan meninggal 14.641 orang.

Selain itu, sentimen pelemahan juga berasal dari belum pastinya pemberian stimulus dari pemerintah Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump semula mengumumkan ingin menambah anggaran stimulus sampai US$2 triliun.
Namun belum ada persetujuan dari Senat AS. Alhasil, pelaku pasar masih perlu menunggu kepastian tersebut.

“Bila sepakat, ini bisa membantu memberikan sentimen positif ke pasar keuangan karena stimulus yang besar,” pungkasnya. (cnn)