Mengenal Patrick Walujo, Sosok Investor Pertama Gojek!

  • Bagikan
Patrick Walujo Mengenal Patrick Walujo, Sosok Investor Pertama Gojek!

Patrick Sugito Walujo (45 tahun) adalah menantu dari pendiri Triputra Group yakni T.P. Rachmat dan merupakan co-founder Northstar Group, perusahaan investasi yang bergerak di private equity dan venture capital.

Patrick Walujo tidak hanya sukses mendulang cuan hasil investasi di public company, tapi juga berani dan jeli berinvestasi pada sejumlah private company seperti Gojek karena peluang bertumbuhnya di Indonesia begitu besar.

Sosok yang diperkirakan memiliki total kekayaan US$200 juta atau setara Rp2,8 triliun versi Majalah Globe Asia 2018 ini memiliki rekam jejak yang ciamik. Begini kisah seru petualangan investasi Patrick Walujo yang dikutip dari LandX.

Menimba Ilmu dan Pengalaman di Luar Negeri

Patrick Walujo adalah jebolan Cornell University jurusan teknik industri pada tahun 1997. Karir profesionalnya di dunia investasi dimulai sebagai investment banker di Goldman Sachs, salah satu bank investasi terbesar di AS, dari tahun 1997 sampai 2000.

Patrick kemudian pindah ke Pacific Century Group (PCG) di Tokyo, Jepang, sebagai manajer mergers and acquisitions (M&A) hingga menduduki posisi senior vice president.

Baca juga:  Julukan Para Investor Di Dunia

Di sela-sela pekerjaannya, Patrick lantas mendirikan Northstar Group pada maret 2003, dengan fokus investasi di Indonesia.

Cuan Berkali-kali Lipat dari BTPN

Salah satu kisah investasi Patrick yang paling sukses adalah PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN). Northstar bersama perusahaan investasi asal AS yakni Texas Pacific Group (TPG) melalui TPG Nusantara membeli 71,61% saham BTPN senilai US$195 juta atau sekitar Rp1,79 triliun pada maret 2008.

Berselang beberapa tahun kemudian, TPG Nusantara melepas saham BTPN secara bertahap.

TahunPorsi Saham yang DilepasHarga Jual Per LembarTotal Nilai Transaksi
201316,87%Rp6.500Rp6,4 Triliun
201415,12%Rp6.500Rp5,74 Triliun
201517,5%Rp5.800Rp5,92 Triliun
20133,48% *Transaksi pada 2017 membuat kepemilikan saham TPG Nusantara di BTPN yang semula 8,38% menjadi 4,9%Rp2.500Rp508,08 Miliar

Coba bayangkan, berapa keuntungan yang mampu diraup TPG Nusantara dari BTPN?

Memoles Bank Jago Bersama Jerry Ng

Patrick Walujo membeli 13,35% saham PT Bank Artos Indonesia Tbk (ARTO) yang saat ini bernama PT Bank Jago Tbk, lewat Wealth Track Technology Ltd. senilai Rp63,61 miliar dengan harga Rp395 per lembar pada 26 Desember 2019.

Baca juga:  Kisah Bahlil Lahadalia, Mantan Sopir Angkot yang Jadi Menteri Investasi

Hadirnya Patrick Walujo dan bankir senior Jerry Ng (lewat PT Metamorfosis dengan kepemilikan 37,65% saham) di ARTO diikuti munculnya rumor tentang ‘Bank Gojek’.

Hal itu mencuat lantaran NSI Ventures yang saat ini bernama Openspace Ventures merupakan kepanjangan tangan dari Northstar selaku investor Gojek tahap awal hingga mampu besar seperti sekarang.

Gojek Ikuti Jejak Patrick Walujo ke Bank Jago

Rumor bakal hadirnya ‘Bank Gojek’ perlahan mulai terbukti. Gojek lewat GoPay menambah 18,02% porsi kepemilikan saham di ARTO senilai Rp2,25 triliun dengan harga Rp1.150 per lembar pada 18 Desember 2020.

Hal tersebut membuat persentase kepemilikan saham Gojek di Bank Jago naik menjadi 22,16%. Sebelumnya, Gojek sudah punya 4,14% saham di ARTO.

Co-CEO Gojek Andre Soelistyo bilang investasi di Bank Jago yang berbasis teknologi akan memperkuat ekosistem Gojek sekaligus membuka akses lebih luas layanan perbankan digital bagi masyarakat Indonesia.

Sebagai informasi, harga saham Bank Jago kini berada di kisaran harga Rp4.000-an ke atas. Bisa tebak berapa potensi capital gain yang didapat Patrick dari investasinya di ARTO?

Gurita Investasi Patrick Walujo

Kiprah kesuksesan investasi Patrick bukan hanya dapat dilihat lewat BTPN, Gojek, hingga Bank Jago. Namanya bahkan sempat ‘terendus’ di Alfamart hingga Indomaret. Deretan perusahaan yang terafiliasi dengan Patrick Walujo.

Baca juga:  Kisah Benjamin Graham: Investor Legendaris yang Dulu Hidup Sengsara

Public Company

  • PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk.
  • PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk.
  • PT Delta Dunia Makmur Tbk.
  • PT BFI Finance Indonesia Tbk.

Private Company

  • Gojek
  • eFishery
  • TaniHub
  • Zenius Education
  • FinAccel
  • GoPlay
  • Halodoc

Punya Sosok Panutan

Suatu waktu, Patrick bercerita bahwa role model yang memotivasinya untuk sukses adalah Sukanto Tanoto. Sukanto Tanoto adalah salah satu orang kaya di Indonesia, tapi jarang masuk 5 besar Forbes karena banyak perusahaannya yang berstatus private company.

Inikah yang memicu Patrick tidak hanya berinvestasi di public company, tapi juga berani berinvestasi pada private company yang peluang bertumbuhnya di Indonesia begitu besar?

Sekilas tentang Prospek Private Company

Private company adalah perusahaan yang sahamnya tidak diperdagangkan melalui pasar saham secara publik, tetapi dimiliki, diperdagangkan, atau dipertukarkan secara swasta.

Entitas yang masuk dalam private company beragam, termasuk UKM, perusahaan konvensional, bahkan hingga startup. Ruang berkembang private company tinggi karena lebih fleksibel daripada public company yang dituntut lebih terbuka mengenai informasi perusahaan dan harus bertindak sesuai aturan Pasar Modal.

Risiko investasi di private company memang lebih besar, tapi return nya sangat menarik. Itulah mengapa Wings Group hingga Djarum Group sampai saat ini masih setia menjadi private company.

“Indonesia adalah negara terbesar ketiga di asia setelah China dan India, sehingga memiliki potensi yang besar untuk menjadi sama majunya. Sekarang tinggal bagaimana kita memanfaatkannya dan ikut serta di dalamnya.”

Patrick Walujo
  • Bagikan