Bisnis  

Kisah Lo Kheng Hong, Perjalanan Bapak Triliuner Saham Indonesia

Lo Kheng Hong c Kisah Lo Kheng Hong, Perjalanan Bapak Triliuner Saham Indonesia

Lo Kheng Hong merupakan salah satu contoh investor sukses dan meraup untung besar dari pasar modal Indonesia. Beliau dijuluki sebagai Warren Buffett-nya Indonesia. Julukan ini muncul karena kekayaan miliknya berasal dari investasi saham

Namun, berbeda dengan Warren Buffett, Lo Kheng Hong tidaklah lahir dari keluarga yang kaya raya. Lo Kheng Hong memiliki masa kecil yang begitu memprihatinkan dimana ia harus tinggal di sebuah rumah petak. Karena keadaan ekonominya pun beliau tidak dapat melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah.

Keterbatasan ekonomi tidak membuat Lo Kheng Hong patah semangat

Tamat dari bangku SMA beliau bekerja sebagai staf Tata Usaha di Overseas Express Bank (OEB). Sembari bekerja, di umur 20 tahun ia akhirnya mengambil kuliah di Universitas Nasional.

Bekerja selama lebih dari 10 tahun di OEB, tak berhasil mengangkat Lo Kheng Hong ke jabatan yang lebih tinggi. Sampai pada akhirnya, ia pindah ke Bank Ekonomi pada tahun 1990 dan berhasil diangkat menjadi Kepala Cabang di bank tersebut dalam waktu satu tahun.

Baca juga:  Ciri-Ciri Saham yang Mustahil Tidak Naik Harganya!

Dengan jabatan barunya, LKH mendapatkan kenaikkan gaji yang berarti semakin banyak uang yang bisa disisihkan untuk investasi saham.

Keluar dari pekerjaan untuk menekuni investasi saham

Setelah 6 tahun bekerja di Bank Ekonomi, Lo Kheng Hong mengambil keputusan untuk berhenti bekerja di tahun 1996. Lo Kheng Hong mengundurkan diri dari pekerjaannya karena ingin fokus menekuni investasi saham.

Sabar dan terus belajar

Lo Kheng Hong memulai investasi saham di usianya yang ke-30 tahun. Awal ia terjun di pasar modal, Lo Kheng Hong sempat mengalami kerugian. Namun ia pun tak berhenti sampai disana. Meskipun sempat rugi, Lo Kheng Hong tetap berusaha.

Setelah berhenti bekerja sebagai pegawai, ia terus belajar dan memperkaya diri dengan informasi seputar saham. Hasil jerih payahnya itu dibuahi dengan peningkatan aset, keuntungan, dan kekayaannya.

Baca juga:  Biografi Susi Pudjiastuti, Mantan Menteri Jokowi Juragan Ikan dan Pesawat

Pengorbanan yang membuahkan hasil

Berawal di tahun 2005, Lo Kheng Hong mempelajari seluk beluk perusahaan yang terdaftar di BEI. Dari sana ia menemukan beberapa diantaranya yang memiliki nilai dan harga saham yang tidak sebanding. Harga saham yang ditawarkan dianggap terlalu murah namun tidak banyak orang yang menyadarinya sehingga Lo Kheng Hong melihat prospek yang bagus pada saham tersebut.

Salah satu saham yang berhasil ia panen dengan keuntungan berlipat ganda adalah saham MBAI. Beliau membeli seharga Rp 250 per lembar pada tahun 2005 dan menjualnya dengan harga Rp31.500 per lembar saham pada tahun 2011.

Dengan begitu Lo Kheng Hong mengantongi keuntungan 12.500% atau melonjak 126 kali lipat dari harga awal. Hingga kini, Lo Kheng Hong masih mengoleksi banyak saham potensial yang dapat memberikan keuntungan lebih besar.

Baca juga:  Setahun Kepergian BJ Habibie, Ini Dia Warisan Berharga Untuk Para Generasi Muda Indonesia

Lo Kheng Hong membuktikan bahwa seseorang dapat menjadi kaya karena membeli saham-saham yang undervalued dengan analisa yang benar.

Sebelum membeli saham sebuah perusahaan, investor harus memperhitungkan dengan sangat cermat. Salah satunya melihat jajaran direksi yang akan membawa perusahaan berkembanga, atau malah justru sebaliknya.

Selain itu, Anda harus mampu memperkirakan nasib dari bisnis yang dijalani perusahaan tersebut beberapa tahun yang akan datang.