Tentang Garda Revolusi, Pasukan Iran Bersenjata Rudal

pasukan garda revolusi iran 120205042029 2301 Tentang Garda Revolusi, Pasukan Iran Bersenjata Rudal

detakhukum.com – Kecaman dan kritik menghujani militer Iran. Pasukan Garda Revolusi Islam (Islamic Revolution Guard Corps/IRGC) itu dihujat setelah melakukan kesalahan fatal, menembak jatuh pesawat komersial milik Ukraina.

Mereka tak sengaja menembak pesawat Ukraine International Airlines dua kali dengan rudal hingga menewaskan seluruh 176 penumpang dan awak.

Insiden itu terjadi ketika Iran tengah bersiaga 

IRGC merupakan angkatan bersenjata Iran yang terbentuk 40 tahun lalu setelah revolusi berlangsung pada 1979.

Menurut berbagai sumber, sebelum revolusi terjadi, Raja Iran Shah Muhammad Reza Pahlavi sangat mengandalkan kekuatan militer untuk menjaga keamanan nasional sekaligus kekuasaan.

Namun, setelah pemerintah revolusioner menggulingkan pemerintahan monarki Pahlavi pada 1979, Iran menyadari bahwa negaranya perlu angkatan bersenjata yang berkomitmen untuk mengkonsolidasikan rezim revolusioner mereka.

Baca juga:  11 Tentara Amerika Serikat Jadi Korban Serangan Dari Rudal Iran

Dilansir dari Council on Foreign Relations, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, penguasa baru Iran, lantas membuat konstitusi baru yang menjadi dasar hukum pembentukan dua angkatan bersenjata yakni militer dan IRGC.

IRGC dianggap sebagai penyeimbang tugas militer Iran. Berdasarkan konstitusi, militer Iran bertugas melindungi perbatasan dan kedaulatan negara. Sementara itu, IRGC memiliki tugas untuk mempertahankan sistem politik Islam Iran.

Namun, dalam prosesnya, IRGC menjadi angkatan bersenjata yang lebih dominan dari militer. IRGC menjadi kekuatan militer, politik, dan ekonomi utama Iran, andalan Khamenei.

Tak jarang, tugas IRGC dan militer Iran kerap tumpang tindih.

IRGC diperkirakan memiliki lebih dari 190.000 personel aktif yang terdiri dari angkatan darat, laut, dan udara layaknya militer. 

Meski jumlah pasukan darat lebih sedikit dari militer Iran, IRGC dianggap sebagai angkatan bersenjata dominan yang kerap berada di belakang operasi militer utama Iran baik di dalam maupun luar negeri.

Baca juga:  Kematian Akibat Virus Corona di AS Tembus 20.000, Tertinggi di Dunia

Pasukan itu juga mengawasi dan mengontrol senjata strategis serta alat utama sistem pertahanan (alutsista) Iran.

Angkatan laut IRGC memiliki tugas berpatroli di Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan minyak dunia lantaran menghubungkan Teluk Arab dengan Samudera Hindia. Jalur sempit ini dilalui oleh kapal-kapal minyak yang membawa 20 persen pasokan minyak dunia.

Sementara itu, angkatan udara IRGC jarang mengoperasikan pesawat tempur, tapi bertanggung jawab atas penggunaan sistem rudal Iran. Data intelijen AS menilai bahwa Iran memiliki kekuatan rudal balistik terbesar di Timur Tengah.

Teheran disebut memiliki lebih dari 10 sistem rudal balistik baik yang telah beroperasi maupun yang tengah dalam pengembangan dengan ratusan pasokan rudal.

Baca juga:  Turki dan Yunani Diguncang Gempa Berkekuatan 7 SR dan Picu Tsunami

IRGC juga turut mengendalikan Basij Resistance Force, kelompok paramiliter yang membantu membungkam kritik dalam negeri Iran dan sebagai lembaga amal yang menjalankan sebagian besar perekonomian.

IRGC pun ikut memperluas pengaruh Iran di kawasan dengan menyediakan uang, senjata, teknologi, dan pelatihan bagi sekutu Iran termasuk kelompok-kelompok bersenjata di Timur Tengah melalui pasukan elite Quds.

IRGC terutama pasukan Quds menjadi musuh utama Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, di Timur Tengah. AS menuding pasukan Quds mendukung dan mendanai kelompok teroris di kawasan.

Pemimpin Quds, Mayor Jenderal Qasem Soleimani tewas di tangan AS dalam serangan drone pada 3 Januari lalu.

sumber : Council on Foreign Relations