Phinisi, Kapal Layar Tradisional Yang Berasal Dari Suku Bugis dan Suku Makassar

phinisi 1 Phinisi, Kapal Layar Tradisional Yang Berasal Dari Suku Bugis dan Suku Makassar

NusantaraPhinisi adalah kapal layar tradisional khas Indonesia yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan atau tepatnya dari Desa Bira, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan dimana 70 persen penduduknya mencari nafkah mencari nafkah dengan pekerjaan yang berkaitan dengan pembuatan kapal dan navigasi.

Kapal Phinisi telah digunakan di Indonesia sejak beberapa abad yang lalu atau telah digunakan sekitar tahun 1500-an. 

Ritual Pembangunan Phinisi

Upacara kurban untuk pembuatan Perahu Phinisi adalah salah satu dimana kemegahan Pinisi dilahirkan para pembuat perahu tradisional ini, yakni orang-orang Ara, Tana Lemo dan Bira. yang secara tuun temurun mewarisi tradisi kelautan nenek moyangnya. Upacara ritual juga masih mewarnai proses pembuatan perahu ini.

Baca juga:  DPRD Kabupaten Bogor Dukung Pemda Buka Jalur Puncak II Bareng TNI

Hari baik untuk mencari kayu biasanya jatuh pada hari kelima dan ketujuh pada bulan yang berjalan. Angka 5 (naparilimaidalle’ na) yang artinya rezeki sudah ditangan, Sedangkan angka tujuh (natujuanggi dalle’ na) yang berarti selalu dapat rezeki. Setelah dapat hari baik, lalu kepala tukang yang disebut “punggawa” memimpin pencarian.

pinisi6 Phinisi, Kapal Layar Tradisional Yang Berasal Dari Suku Bugis dan Suku Makassar

Sebelum pohon ditebang, dilakukan upacara untuk mengusir roh penghuni pohon tersebut. Seekor ayam dijadikan sebagai korban untuk dipersembahkan kepada roh.

Jenis pohon yang ditebang itu disesuaikan dengan fungsi kayu tersebut. Pemotongan kayu untuk papan selalu disesuaikan dengan arah urat kayu agar kekuatannya terjamin. Setelah semua bahan kayu mencukupi, barulah dikumpulkan untuk dikeringkan.

Peletakan lunas juga memakai upaca khusus. Waktu pemotongan, lunas diletakan menghadap ke arah timur laut. Balok lunas bagian depan merupakan simbil lelaki.

Baca juga:  Ingkar Janji, Bupati Bogor Marah dan Kecewa Rhoma Irama Tetap Manggung

Sedang balok lunas bagian belakang diartikan sebagai simbol wanita. Setelah dimantrai, bagaian yang akan dipotong ditandai dengan pahat. Pemotongan yang dilakukan dengan menggunakan gergaji harus dilakukan sekaligus tanpa boleh berhenti. 

Ujung lunas tang sudah dipotong tidak boleh menyentuh tanah, Bila balok bagian depan sudah putus, potongan itu harus dilarikan untuk dibuang ke laut.

Potongan itu menjadi benda penolak bala dan dijadikan kiasan sebagai suami yang siap melaut untuk mencari nafkah.

Sedangan potongan balok lunas bagian belakang di simpan di rumah, dikiaskan sebagai istri pelaut yang dengan setia menunggu suami pulang untuk membawa rezeki.

Pemasangan papan pengapit lunas disertai dengan Upacara Kalebiseang. Upacara Anjarreki yaitu untuk penguatan lunas, disusul dengan penyusunan papan dari bawah dengan ukuran lebar yang terkecil sampai keatas dengan ukuran yang lebih lebar.

Baca juga:  Heboh! Pulau Malamber di Mamuju Dijual Rp 2 M

Jumlah seluruh papan dasar untuk Perahu Pinisi adalah 126 lembar. Setelah papan teras tersusun, Diteruskan dengan pemasangan buritan tempat meletakan kemudi bagian bawah.

pinisi1 Phinisi, Kapal Layar Tradisional Yang Berasal Dari Suku Bugis dan Suku Makassar