Hukum  

Merasa Profesinya Dihina, Ikatan Guru Indonesia (IGI) Minta Kapolri Mundur

3 guru 1 Merasa Profesinya Dihina, Ikatan Guru Indonesia (IGI) Minta Kapolri Mundur
Tiga tersangka tragedi susur sungai Sempor dihadirkan dalam gelar perkara di Mapolres Sleman, Selasa (25/2/2020).

“Jadi itu proses itu kami serahkan sepenuhnya secara hukum. Kami menghargai dan sangat mengapresiasi kawan-kawan organisasi guru lainnya yang telah lebih awal menurunkan tim bantuan hukum untuk mendampingi kawan-kawan guru yang mendapatkan musibah,” kata Muhammad Ramli Rahim Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia melansir dari suara.com, Rabu 26 Februari 2020.

Dia mengatakan, terlepas dari kesalahan dan kelalaian guru, sesungguhnya tidak layak polisi memperlakukan mereka dengan cara menghinakan mereka. Memotong rambutnya hingga botak lalu memasarkannya ke publik.

“Seolah polisi jauh lebih menghargai koruptor yang membunuh kemanusiaan dibanding guru yang secara tidak sengaja lalai yang menimbulkan korban jiwa,” ungkap Ramli.

Menurut Ramli, polisi ini lupa kalau mereka tidak akan pernah menjadi polisi tanpa peran guru sedikitpun. Para polisi yang menggunduli ini seolah lupa bahwa membaca dan menulis pun mereka tak akan mampu jika tanpa dibantu oleh guru.

Baca juga:  Kejari Geledah Kantor Disdik Kota Bogor Terkait Dana BOS

Karena itu seharusnya polisi ini bukan mempermalukan guru dengan cara-cara seperti itu. Tetapi seharusnya mereka memperlakukan guru dengan cara yang baik dengan tetap mengedepankan proses hukum dan asas praduga tak bersalah.

“Guru-guru ini juga memiliki keluarga dan kehormatan keluarga mereka juga harus dijaga karena mereka melakukan semua itu tanpa unsur kesengajaan tetapi murni karena kelalaian dan faktor alam,” kata Ramli.

Ikatan Guru Indonesia sangat prihatin dengan jatuhnya korban dari peristiwa susur sungai. Ikatan Guru Indonesia wilayah Yogyakarta bahkan telah mengumpulkan dana dari berbagai pihak untuk disalurkan kepada keluarga korban dan juga keluarga guru yang sedang bermasalah. (red)