VPS HOSTING
VPS HOSTING

Tersandung Kasus Korupsi, Busana Pun Berubah Drastis Jadi Religius. Masih Ngetren di Kalangan Koruptor?

  • Bagikan
Busana Korupsi Tersandung Kasus Korupsi, Busana Pun Berubah Drastis Jadi Religius. Masih Ngetren di Kalangan Koruptor?

detakhukum.com – Perubahan mode busana dengan atribut keagamaan jamak dilakukan oleh para pelaku tindak pidana korupsi. Terakhir, publik dipertontonkan gaya busana terdakwa kasus suap Jaksa Pinangki Sirna Malasari lengkap dengan kerudung dan balutan gamis.

Ia hadir di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, September 2020 lalu. Jauh sebelum itu, 2015 silam Angelina Sondakh ujug-ujug mengenakan kerudung saat hadir di muka pengadilan. 

Apa yang hendak dikatakan para pelaku korupsi melalui simbol keagamaan itu? Terlepas dari ada atau tidaknya motif mereka, penggunaan jilbab, peci, dan atribut keagamaan lainnya adalah hak yang patut dihormati.

Deretan koruptor yang mengubah gaya busananya saat menjadi pesakitan

1. Angelina Sondakh

Angelina Sondakh Tersandung Kasus Korupsi, Busana Pun Berubah Drastis Jadi Religius. Masih Ngetren di Kalangan Koruptor?

Usai memperoleh keringanan hukuman dari Mahkamah Agung atas kasus korupsi proyek wisma atlet di Palembang, Ia mengubah penampilan. Tapi, politisi Partai Demokrat ini turut masuk dalam pusaran kasus korupsi lainnya, yakin Hambalang.

Pada 6 Januari 2015, saat hadir sebagai saksi dalam korupsi Nazarudin, mantan Bendahara Umum Demokrat. Sondakh tampil berbeda, ia mengenakan blus putih seperti biasanya tapi kali ini dengan jilbab warna jambu.

2. Imam Nahrawi

Imam Nahrawi Tersandung Kasus Korupsi, Busana Pun Berubah Drastis Jadi Religius. Masih Ngetren di Kalangan Koruptor?

Penampilan Imam berubah pas setelah jadi tersangka kasus suap KONI Tahun Anggaran (TA) 2018. Bertemu wartawan terkait penetapan dirinya sebagai tersangka KPK, ia memakai peci putih.

Sementara, saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta 21 Februari 2020, ia terlihat mengenakan peci bertuliskan ‘NU’ –merujuk pada Nahdlatul Ulama ormas Islam terbesar di Indonesia.

Imam sendiri pada akhirnya divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 7 tahun penjara.

3. Pinangki Sirna Malasari

Jaksa Pinangki Tersandung Kasus Korupsi, Busana Pun Berubah Drastis Jadi Religius. Masih Ngetren di Kalangan Koruptor?

Terbaru, publik dipertontonkan dengan berubah nya penampilan tersangka kasus suap Djoko Tjandra, Pinangki Sirna Malasari. Ia mengenakan busana muslimah dengan memadukan jilbab dan gamis saat menjalani persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Tak cuma di meja hijau, perilaku alim juga ditunjukan para Narapidana di penjara Setya Novanto.

Mengapa simbol keagamaan kerap ditampilkan para koruptor?

Psikolog Klinis dan Forensik Kasandra Putranto menyebut perubahan penampilan adalah salah satu usaha untuk mendapatkan keringanan hukuman. Yakni, dengan berusaha berlaku dan memberikan kesan yang baik selama persidangan.

“Secara umum, fenomena perubahan fashion yang dilakukan para tersangka pelanggaran hukum memang ada. Baik yang dengan motif maupun tidak. Biasanya yang memiliki motif ya karena ingin memberikan kesan baik-baik, innocent dengan tujuan meringankan hukuman.”– Kasandra Putranto (Psikolog Klinis dan Forensik)

Mengingatkan pada teori “dramaturgi” Goffman

Dalam buku klasiknya, The Presentation of Self in Everyday Life (1959), sosiolog Erving Goffman, memperkenalkan konsep dramaturgi. Intinya, perilaku dalam kita sehari-hari ditampilkan dengan cara yang sama seperti seorang aktor dalam sebuah pertunjukan drama.

Atau, ada semacam sandiwara yang dapat disajikan seseorang dalam memilih peran yang dia inginkan. Goffman juga memperkenalkan istilah front stage (wajah di depan panggung) dan backstage (wajah di belakang panggung). Terkadang, orang menampilkan wajah perilaku yang berbeda dari kedua situasi itu.

Artinya, perubahan cara berpakaian para koruptor dalam persidangan bisa jadi adalah pertunjukan dua wajah perilaku yang berbeda itu.

Arus Islamisasi di ruang publik yang menguat.

Hal ini bisa jadi salah satu faktor pendorong lainnya Ibnu Nadzir, peneliti dari Pusat Penelitian Budaya dan Masyarakat LIPI mengatakan bahwa pasca reformasi, semangat keberagaman tampak menguat di masyarakat.

Para koruptor mungkin ingin mengambil aspek citra positif dengan representasi simbol religi tertentu. Dalam kultur masyarakat di Indonesia, memperbaiki diri atau bertobat adalah salah satu aspek perilaku yang sangat dihargai.

“Karena proses islamisasi di ruang publik pasca reformasi ini menguat, maka para koruptor mengasosiasikan bahwa ketika dia ingin terlihat baik maka para koruptor ini mengambil simbol-simbol Islam yang diasosiasikan dengan hal-hal baik. Walaupun jadinya kontraproduktif dan buruk bagi representasi Islam.” Ibnu Nadzir (peneliti dari Pusat Penelitian Budaya dan Masyarakat Islam).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *