VPS HOSTING
VPS HOSTING

Benarkah Keberadaan SARS-CoV-2 Pertama Dunia Bukan di Wuhan?

  • Bagikan
SARS CoV 2 Benarkah Keberadaan SARS-CoV-2 Pertama Dunia Bukan di Wuhan?
Freepik

detakhukum.com – Selama ini Kota Wuhan, China disebut jadi tempat pertama ditemukannya virus corona (SARS-CoV-2) pada akhir Desember 2019.

Namun, beberapa penelitian mengungkap hal yang berbeda. Seperti halnya para ilmuwan di Italia yang menemukan virus corona ada di sana sejak September 2019. Di Spanyol, para peneliti dari University of Barcelona mendapati SARS-CoV-2 pada sampel air limbah tertanggal 12 Maret 2019.

Ada pula riset yang menyebut, strain virus corona di Spanyol yang diamati pada bulan Juni lalu, kini mendominasi tak hanya di Spanyol tapi juga menyebar hingga ke Swis, Irlandia, dan Inggris. Simak penjelasannya:

Jejak pertama virus corona (SARS-CoV-2) yang kini ditemukan hampir diseluruh belahan dunia masih menjadi misteri. Wuhan, kerap disebut menjadi tempat pertama virus ini berasal.

Linimasa sejarah pandemi COVID-19 dimulai pada 31 Desember 2019, saat kantor WHO di China mengutip pernyataan dari Komisi Kesehatan Kota Wuhan terkait kasus pneumonia yang terjadi di sana.

Namun, dalam sebuah jurnal ilmiah yang diterbitkan pada 11 November 2020, sejumlah peneliti menemukan patogen COVID-19 telah menjangkiti warga Italia beberapa bulan sebelum kasus di Wuhan, tepatnya pada September 2019.

Para Peneliti menguji sampel darah 959 individu tanpa gejala COVID-19 di seluruh Italia yang juga melakukan tes screening kanker paru-paru pada September 2019 hingga Maret 2020. Meski sel darah tidak mengandung virus, tapi sel darah membawa antibodi, yaitu sistem imun yang terbentuk setelah diserang virus.

Dalam jurnal ilmiah yang telah diulas para ahli didapati antibodi spesifik SARS-CoV-2 dalam tubuh pasien sejak September 2019.

Reuters Benarkah Keberadaan SARS-CoV-2 Pertama Dunia Bukan di Wuhan?

Bukan hanya di Italia, tapi juga di Spanyol

Ahli virologi di University of Barcelona, Spanyol merilis jurnal hasil penelitian mereka terhadap air limbah pada Juli 2020. Dalam jurnal yang belum diulas para ahli itu, genom SARS-CoV-2 ditemukan pada air limbah mentah (belum diolah), yang sudah bercampur dengan feses.

Meski COVID-19 adalah penyakit pernafasan, sebagian besar genom virus corona ada pada feses. Hasilnya, pada sampel air limbah beku tertanggal 12 Maret 2019, ditemukan genom SARS-CoV-2.

“Kadar kontaminasi (genom) SARS-CoV (dalam sampel air limbah) rendah, tapi menunjukan hasil positif”, Albert Bosch, Kepala Peneliti (Reuters, 27 Juni 2020).

Dalam jurnal ilmiah lainnya, dikemukakan Strain SARS-CoV-2 20A.EU1 yang ditemukan di Spanyol pertama kali teridentifikasi di antara buruh tani di daerah Spanyol timur di Aragon dan Catalunya.

Dengan menggunakan metode sekuens genom, strain ini diduga mendominasi penularan di Spanyol, dan menyebar ke Swiss, Irlandia, dan Inggris pada September.

Tanggapan Who dan Ahli

Kini, WHO sedang meninjau ulang dan mengklarifikasi informasi tambahan mengenai penelitian tersebut.

“Kemungkinan bahwa virus ini (SARS-CoV-2) telah beredar secara diam-diam di tempat lain (sebelum di Wuhan) memang tak dapat dikesampingkan.” (Reuters, 16/11/20)

“Saya akan sangat berhati-hati dengan penemuan ini. (laporan penemuan) ini harus dikonfirmasi ulang dan ditindaklanjuti dengan tes antibodi yang berbeda, untuk mengetahui prevalensi terhadap salah satu protein yang ada dalam SARS-CoV-2”. George Rutherford, Professor Epidemiologi dan Biostatistik Universitas California (Live Science, 18/11/20)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *