VPS HOSTING
VPS HOSTING

Konstitusi Itu Bukan Harga Mati, dan Rakyat Chile Berhasil Membuktikannya

  • Bagikan
Chile Konstitusi Itu Bukan Harga Mati, dan Rakyat Chile Berhasil Membuktikannya
Foto: Reuters

detakhukum.com – Rakyat Chile menorehkan sejarah setelah memutuskan konstitusi negara itu harus diubah lewat referendum. 78 persen pemilih menginginkan perubahan konstitusi, pada minggu (25/10/2020).

Referendum ini dilaksanakan setelah jutaan warga Chile protes besar-besaran sejak Oktober 2019. Protes ini awalnya hanya dipicu kenaikan ongkos metro di Santiago, tapi merembet ke soal lain.

Sebulan berjalan, protes ini memaksa Presiden Sebastian Pinera menjanjikan referendum digelar April 2020. Namun, pandemi COVID-19 memundurkan jadwal sehingga jajak pendapat baru terlaksana 25 Oktober lalu.

Mengapa rakyat ingin perubahan konstitusi?

Konstitusi yang berlaku di Chile saat ini merupakan warisan rezim diktator Augusto Pinochet pada 1980-an. Mayoritas warga menganggap konstitusi tersebut sebagai penyebab ketimpangan di negara mereka.

Ketimpangan muncul karena rezim Pinochet punya kebijakan liberalisasi ekonomi yang dipengaruhi pemikiran kelompok Chicago Boys,–kelompok ekonom Chile pada 1970-1980-an yang sebagian besar mengenyam pendidikan University of Chicago.

Liberalisasi ekonomi menempatkan swasta sebagai pengendali sektor seperti kesehatan, pendidikan dan perumahan, yang seharusnya dikuasai oleh negara.

Meski begitu, pada 1985-1987, kebijakan ini sempat mengerek ekonomi Chile tumbuh 7 persen. Namun disisi lain, kebijakan ini menghasilkan ketimpangan ekonomi yang luas.

Lalu,

Referendum lanjutan akan digelar April 2021 untuk memilih 155 anggota panitia perumus konstitusi baru. Proses perumusan konstitusi akan berlangsung selama 9 bulan. Setelah draf konstitusi selesai, referendum lanjutan bakal digelar pada 2022 untuk memutuskan apakah konstitusi tersebut disetujui atau tidak.

Pelajaran dari Chile

Sejak merdeka pada 1818, konstitusi Chile sudah berulang kali berubah. Mulai dari 1833, 1925, dan 1980.

Perubahan ini seolah membuktikan konstitusi bukan harga mati yang tidak bisa diubah. Meskipun konstitusi kerap kali dimitoskan untuk memuluskan doktrin nasionalisme sebuah negara. (narasi/reuters)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *