VPS HOSTING
VPS HOSTING

Biografi Prajogo Pangestu, Supir Angkot Yang Jadi Bos PT Barito Pacific Tbk

  • Bagikan
Prajogo Pangestu Biografi Prajogo Pangestu, Supir Angkot Yang Jadi Bos PT Barito Pacific Tbk

Prajogo Pangestu dengan nama Phang Djoem Phen berasal dari Kalimantan Barat, lahir pada bulan Mei 1944 di Kabupaten Sambas. Ekonomi keluarga Prajogo kecil sangatlah susah.

Namun berkat kegigihannya, kini Prajogo tercatat sebagai orang terkaya no.3 di Indonesia menurut versi majalah Forbes tahun 2019 dengan kekayaan mencapai US$ 6,52 miliar atau setara dengan Rp 95,9 triliun melalui usahanya PT Barito Pacific Tbk.

Hanya Lulusan SMP dan Menjadi Supir Angkot

Prajogo hanyalah lulusan SMP, karena keterbatasan ekonomi keluarganya. Akhirnya, demi mengubah nasib maka Prajogo merantau ke Jakarta. Tapi ternyata usaha Prajogo ke Jakarta hari sia-sia.

Prajogo akhirnya memutuskan kembali ke Kalimantan dan bekerja sebagai supir angkot. Sambil menjadi supir, Prajogo juga membuka usaha kecil dengan menjual keperluan dapur dan ikan asin.

Hidupnya Berubah Semenjak Memiliki Jabatan Manager

Hingga akhirnya pada tahun 1960an, waktu Prajogo masih menjadi supir angkot, Prajogo bertemu dengan seorang pengusaha kayu asal Malaysia, Burhan Uray.

Prajogo kemudian bergabung dengan PT Djajanti Group milik Burhan Uray dan bertugas mengurus Hak Pengusahaan Hutan (HPH) di Kalimantan Tengah. Enam tahun kemudian, Prajogo kemudian dipercaya oleh Burhan untuk menjabat sebagai General Manager Pabrik Plywood di Gresik.

Memiliki Perusahaan Kayu Terbesar di Indonesia

1 tahun setelahnya, Prajogo memutuskan untuk resign dan mencoba bisnis sendiri bermodal dari pinjaman bank dengan membeli CV Pacific Lumber Co yang saat itu sedang mengalami krisis dan mengganti namanya menjadi PT Barito Pacific.

Usahanya pun berhasil menjadi perusahaan kayu terbesar di Indonesia dan Prajogo pun berhasil melunasi hutangnya dalam waktu 1 tahun. Di tahun 1993 Barito Pacific pun berhasil menjadi perusahaan publik.

Harga Sahamnya Turun dan Harus Menanggung Hutang US$ 1,8 miliar

Tidak berhenti berusaha, Prajogo pun mendirikan PT Chandra Asri Petrochemical Center dan PT Tri Polyta Indonesia Tbk. Namun sayang, krisis yang terjadi di tahun 1998 menjadi hambatan terbesar bagi Prajogo.

Dimana nilai saham Barito Pacific anjlok drastis dari US$ 5 miliar menjadi US$ 3 juta. Dan Prajogo harus menanggung hutang hingga US$ 1,8 miliar dari bisnisnya yang lain.

Bangkit Kembali Membangun Kerajaan Bisnis Yang Lebih Hebat

Prajogo tidak putus asa, dengan inovasi yang dilakukannya, Prajogo pun berhasil memulihkan keuangan bisnisnya dengan menggabungkan seluruh perusahaan-perusahaan miliknya menjadi satu dengan nama Barito Group.

Di bawah bendera Barito Group, Prajogo memperlebar bisnisnya di bidang petrokimia, properti, energi, power plant, perkebunan, hingga industri kayu.

Anak Perusahaan Milik Barito Group

Beberapa perusahaan milik Barito Group

  • Star Energy Group Holding Pte Ltd dengan kepemilikan saham sebesar 66% dengan nilai transaksi sebesar Rp 7,4 triliun. Star Group juga mengakuisisi 2 proyek panas bumi milik Chevron Indonesia, sehingga Star Energy berhasil menjadi perusahaan penghasil panas bumi terbesar di Indonesia dan ketiga di Dunia.
  • PT Griya Tirta Asri anak usaha Barito Group di bidang properti. Membangun Wisma Barito Pacific di Jakarta Barat dan tahap proyek pembangunan kawasan industri Griya Idola Industrial Park (GIIP) di Tangerang.
  • Indo Raya Tenaga usaha berupa joint venture yang bergerak di usaha pembangkitan dan penyediaan listrik.

Menjadi Orang Terkaya No.3 di Indonesia

Di akhir tahun 2019 majalah Forbes merilis daftar nama orang terkaya di Indonesia. Nama Prajogo Pangestu berhasil menduduki peringkat ketiga dengan total kekayaan US$ 6,52 miliar atau setara dengan Rp 95,9 triliun.

Dan mendapat anugerah gelar tanda kehormatan 2019 dari Presiden Jokowi.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *